You are here >
Wed
08
Sep 2010
08/09/10:
Rancangan Besar
07/09/10:
Mitos Seorang Pria
06/09/10:
Deadline
03/09/10:
Kupang Baumata
02/09/10:
Menyapa Zakheus
| BAHAYA CINTA PREMATURE & IMMATURE |
|
|
|
| Ditulis oleh Julianto Simanjuntak |
| Sabtu, 27 Maret 2010 00:00 |
Pengalaman konseling terhadap keluarga yang bermasalah, kasus suami istri yang penuh konflik saya temukan salah satu penyebabnya adalah pernikahan yang dilandasi cinta yang premature dan immature. Cinta yang tidak matang dan yang dipaksakan keadaan. Meski orang beralasan menikah karena cinta, namun sesungguhnya bukan cinta yang mendorong mereka menikah. Lewat penelitian Lederer dan Jackson ditemukan bahwa cinta ternyata bukanlah menjadi alasan utama orang menikah. Ada beberapa alasan lain (yang lebih dominan) yang mendorong orang menikah, antara lain: karena kehamilan, tekanan sosial (misalnya dari orangtua menginginkan mereka segera menikah). Ada juga karena pengaruh buku-buku romantis dan tradisi (adat). Ada juga karena ingin lepas dari rasa kesepian dan kebosanan. Ada juga disebabkan takut akan keadaan ekonomi di masa depan.Ada yang menikah karena merasa dengan menikah hidup lebih lengkap. Banyak orang menikah dengan alasan saling mencintai, namun mereka memahami cinta hanya sebagai psychological phenomena. Artinya, hanya kebetulan ada perasaan attracted atau passion (khususnya kaum remaja yang sedang bertumbuh hormon seksual - dimana daya tarik seksual lebih kuat daripada daya tarik pribadi). Misalnya melihat wajah cantik, kekayaan atau kepandaian; atau karena adanya kesempatan tertentu, sering ketemu lalu bergaul kemudian muncul perasaan cinta (witing tresno jalaran soko kulino). Orang bilang "Cinlok" alias cinta lokal. Lama-kelamaan, ketika muncul kesadaran baru, ia merasa pacarnya sebenarnya tidak terlalu menarik. Tetapi karena sudah mengikatkan diri, sulit untuk mundur. Terlambat. Ironisnya, kalau ketemu orang lain yang lebih baik, cantik/ ganteng dan menarik, mudah juga putus. Oleh karena beberapa saran sederhana saya bagi kaum muda yang sedang bergumul menemukan salah satu sahabat yang hendak dijadikan pacar atau Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan. Pertama, janganlah Anda menggerakkan cinta sebelum waktunya. Raja salomo nan bijak menegaskan bahwa sekali Anda menggerakkan cinta, maka sulit mengontrolnya kembali. Salomo berkata Air yang banyakpun tidak dapat memadamkan cinta. Hubungan itu ada tahapannya. Dalam bukunya "Interplay : The Process of Interpersonal Communication, " Ronald Adler . mengemukakan beberapa tahap perkembangan dalam berelasi. Pertama, fase kenalan. Pada tahap ini keduanya berusaha mengenal secara umum akan teman dekatnya. Kedua, experimenting. Sesudah membuat kontak mulai ada keinginan untuk mencari tahu keistimewaan atau kekhususan temannya. Mau mencari persamaan-persamaan dengan teman barunya, dlsb. Pada tahap ini masih superficial (dangkal). Ketiga, fase intensifying. Pada tahap ini sudah terjadi pengenalan diri yang lebih mendalam. Sesudah relasi menguat masing-masing individu mulai menempatkan identitas masing-masing ke dalam satu unit sosial. Mulai membentuk jati diri sebagai pasangan. Disini perasaan saling memiliki bertumbuh. Keempat (terakhir) fase integrating. Yakni, mulai bicara hal yang private dan makin tercipta bonding (ikatan). Disini mereka mulai menyatakan kehadapan publik lewat simbol akan status mereka bahwa hubungan mereka telah eksis, misal memberitahu kepada orangtua, dlsb. Namun jika pada tahap -tahap tersebut ada hal yang tidak sesuai dengan Anda maka masuk fase pemutusan hubungan. Jika anda memulia hubungan istimewa (pacaran) pada usia yang sebenarnya Anda belum matang atau siap membangun relasi, maka hubungan ini kami sebut premature. Betapa pentingnya pengenalan mendalam sebelum Anda memutuskan untuk berpacaran atau membangun hubungan istimewa. Untuk lebih mengenal kepribadian calon Anda sekarang alat-alat tes psikologi untuk hal ini juga sudah banyak. Kami sarankan pakailah premarital res jika hubungan Anda akan melangkah ke hubungan yang serius (pernikahan) . Masalahnya dalam banyak kasus mereka yang masih remaja/muda dan belum matang secara emosi/ karakter dan sosial Anda bisa mengorbankan siapapun demi apa yang anda sebut "cinta". Kamu bisa mengorbankan studi, kebiasaan baik, teman baik bahkan Orangtua Anda. Tak jarang pula ada yang rela mengorbankan Imannya. Jangan heran kekecewaan bertumpuk ketika hubungan itu putus ditengah jalan. Dari beberapa bacaan tentang pernikahan disarankan lama pacaran dianjurkan paling sedikit 2 tahun. Kedua, Cinta yang tidak matang seringkali digantikan dengan kesenangan, uang dan fasilitas. Beberapa mereka yang tumbuh dalam keluarga tanpa cinta tapi melimpah uang dan kesenangan, akan menggunakan hal yang sama untuk mendapatkan cinta seseorang. Dia menawarkan kesenangan - kenikmatan - dan uang. Namun Si Bijaksana Salono berkata " sekalipun ada orang yang memberi sgala harta untuk cinta ia pasti akan dihina (Kid.8:4&7). Ketiga, penting sekali untuk memahami life-structure masing-masing. Struktur hidup/ kepribadian ditentukan oleh faktor herediter (keturunan) dan pembentukan atau pengalaman belajar masa kanak-kanak. Sebaiknya kenalilah dengan baik karakter pasangan Anda dan faktor-faktor apa yang membentuknya sejak dia kecil. Kenali baik baik pohon keluarganya. Sebab itu masa-masa itu banyak membentuk pribadinya sekarang. Setelah itu cobalah pertimbangkan dengan matang, apakah Anda bisa hidup berpuluh-puluh tahun kemudian dengan orang seperti itu. Keempat, selama Anda bersahabat dan mencoba memilih pacar diantara sahabat Anda waspadai hal-hal berikut ini: Hindari tipe pria/wanita perayu-penggoda, dan permisif (tdk punya komitmen moral - biasanya dibesarkan dalam keluarga yang "lapar cinta"). Juga waspadai orang yang penuh janji muluk tapi tidak memegang janji. Hindari juga pribadi seseorang yang egois dan tidak siap menderita. Sebaliknya temukan dan bangunlah hubungan istimewa dengan orang yang anda percayai - dapat diandalkan, beriman - setia, dan anda betul-betul kenal dengan baik. Sangat baik jika orang itu satu dari antara sahabat yang sudah Anda kenal dengan baik. Tak kalah penting orang itu siap menerima Anda "apa adanya" (bukan "ada apanya") - demikian juga sebaliknya. Kelima, pernikahan orang Timur satu Paket. Menggabungkan kedua keluarga besar. Restu atau persetujuan orangtua sangat dibutuhkan. Oleh sebab itu jauh sebelum Anda jalan ke arah hubungan yang serius, libatkan sedapat mungkin orangtua Anda. Tidak sedikit masalah yang muncul kemudian adalah tidak harmonisnya hubungan mantu-mertua dan kemudian merembet memburuknya hubungan Ortu - Anak. Sebagai kesimpulan: Sabarlah menjalani masa remaja (muda) Anda. Bergaullah seluas-luasnya dengan lawan jenis Anda untuk mengenal dunia yang berbeda dengan Anda. Bersahabatlah dengan mantap sebelum memutuskan berpacaran. Sampai akhirnya Anda menemukan 'teman' yg sepadan. Jika Anda menemukan "orang yang tepat" dan "pada waktu yang tepat" maka itulah yang akan menyelamatkan Anda pribadi -karir anda, pernikahan anda dan keturunan (sambungan keturunan dari ortumu) selamanya. Itulah tanda bakti terbaik anda kepada orangtua, yakni memilih teman hidup yang tepat dan sesuai, yang bisa meneruskan keturunan yang tangguh dan menjadi berkat. Jika engkau salah memilih, salah menikah dan menghasilkan pernikahan yang buruk, secara tidak langsung Anda sudah "membunuh" ke atas. Biayanya terlalu mahal! Karena itu bijaklah bersahabat dan memilih calon teman hidup. |
Meja Redaksi
Shalom, sahabat-sahabat eKasih
Puji Tuhan, sesuai dengan rencana maka mulai tanggal 5 Mei 2009 ini eKasih tampil dengan wajah yang lebih segar. Kami tahu bahwa ini masih perlu penambahan penambahan yang lebih baik lagi. Untuk itu setiap hari kami akan terus memperbaiki isi dari eKasih sehingga benar-benar dapat berguna dan menjadi berkat buat kita semua.
Sahabat yang rindu membantu pelayanan ini dapat mengirimkan bantuan ke rekening ekasih a/n Khristianto, no rek BCA 2671462001, bantuan berupa barang yang ingin disalurkan untuk memberkati banyak orang dapat dikirim ke alamat kami di Jl. Bengkulu Kav 434/M Cinere, Limo - Depok 12415.







Pengalaman konseling terhadap keluarga yang bermasalah, kasus suami istri yang penuh konflik saya temukan salah satu penyebabnya adalah pernikahan yang dilandasi cinta yang premature dan immature. Cinta yang tidak matang dan yang dipaksakan keadaan. Meski orang beralasan menikah karena cinta, namun sesungguhnya bukan cinta yang mendorong mereka menikah. Lewat penelitian Lederer dan Jackson ditemukan bahwa cinta ternyata bukanlah menjadi alasan utama orang menikah. Ada beberapa alasan lain (yang lebih dominan) yang mendorong orang menikah, antara lain: karena kehamilan, tekanan sosial (misalnya dari orangtua menginginkan mereka segera menikah). Ada juga karena pengaruh buku-buku romantis dan tradisi (adat). Ada juga karena ingin lepas dari rasa kesepian dan kebosanan. Ada juga disebabkan takut akan keadaan ekonomi di masa depan.



























