You are here >
Sat
04
Sep 2010
03/09/10:
Kupang Baumata
02/09/10:
Menyapa Zakheus
01/09/10:
Membawa Kebaikan
31/08/10:
Terlalu Betah
30/08/10:
Memilih untuk Bersyukur
| EMPAT KUNCI MENGHADAPI TANTANGAN |
|
|
|
| Ditulis oleh Hadi |
| Sabtu, 12 September 2009 00:00 |
Kita berada di jaman yang cukup parah, bencana demi bencana terjadi dimana-mana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, disertai munculnya berbagai wabah sakit penyakit yang merenggut banyak korban. Penyesatan demi penyesatan agamapun makin marak, seakanakan berlomba-lomba membawa dunia ini kepada kehancuran. Lalu bagaimana dengan kita sebagai gereja Tuhan harus menyikapi dengan benar segala sesuatu yang telah terjadi. Tidak bisa tidak kita harus menempel dan melekat kepada Kristus pada saat menghadapi segala hal yang terjadi diluar perhitungan kita.Kita bisa melihat bagaimana beratnya tantangan yang harus dihadapi oleh Paulus, Kolose 2:1-5 mengisahkan bagaimana Paulus menghadapi tantangan baik dari dalam maupun luar khususnya orang-orang yang belum mengenal secara pribadi, kadangkala Paulus disalah mengerti saat melakukan tindakan-tindakan pendisiplinan bahkan ada diantara mereka yang berusaha membelokkan, mengacaukan jemaat yang telah Paulus bangun namun Paulus tetap pada pendiriannya karena dia tidak memiliki tujuan lain terkecuali membawa masing-masing jemaat kembali kepada Kristus sebagai fokus utama, karena itu dia tidak mengizinkan tantangan apapun menghentikan setiap geraknya. Untuk menghadapi tantangan yang ada, Paulus menasehatkan ada empat hal yang harus kita lakukan antara lain sebagai berikut: 1. Pastikan hidup kita tetap didalam Dia (Kolose 2:6 dan Yohanes 15:4) Memiliki pengertian bahwa kita melekat bersama dengan Kristus dari hari kesehari. Sehingga seluruh keputusan kita lahir dari hadirat Allah. Dalam hal ini kita harus berani mengambil keputusan berkata TIDAK kepada yang bukan kehendak Allah agar kita dapat menjaga hidup kita untuk tetap di dalam Dia. 2. Hendaklah kita berakar didalam Dia dan dibangun diatas Dia (Kolose 2:7) Kehidupan kita diumpamakan seperti pohon dalam Mazmur 1:1-3, semakin berakar kuat kedalam maka akan semakin kuat, sehingga tidak mudah roboh saat diterjang badai, demikian juga kehidupan kekristenan kita harus berakar kuat didalam Dia. Tidak cukup hanya berakar didalam Dia namun kita harus memperhatikan bagaimana dan media apa yang kita pakai untuk membangun kehidupan kita agar kita kedapatan tahan uji pada saat ujian itu datang seperti yang terdapat dalam I Korintus 3:10-15. 3. Hendaklah kita bertambah teguh dalam iman (Lukas 18:8 dan Kolose 2:7) Dibutuhkan iman yang kuat dan stabil untuk melewati setiap tantangan hidup. 4. Hendaklah hati kita melimpah dengan ucapan syukur (Kolose 2:7) Kita harus tetap mengucap syukur sekalipun sedang menghadapi konflik yang terjadi dihadapan kita. Pada waktu ucapan syukur mengalir dari mulut kita maka hati kita memperoleh ketenangan. Karena itu kita harus menjaga hati dengan segala kewaspadaan (Amsal 4:23), agar kita tidak mudah menggerutu pada saat menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Apakah tantangan hidup membuat kita menjadi hilang keseimbangan seperti layang-layang yang putus talinya? Pastikan empat hal yang ditulis diatas menjadi prinsip hidup kita, sehingga kita boleh berkata segala perkara dapat kutanggung didalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku |
Meja Redaksi
Shalom, sahabat-sahabat eKasih
Puji Tuhan, sesuai dengan rencana maka mulai tanggal 5 Mei 2009 ini eKasih tampil dengan wajah yang lebih segar. Kami tahu bahwa ini masih perlu penambahan penambahan yang lebih baik lagi. Untuk itu setiap hari kami akan terus memperbaiki isi dari eKasih sehingga benar-benar dapat berguna dan menjadi berkat buat kita semua.
Sahabat yang rindu membantu pelayanan ini dapat mengirimkan bantuan ke rekening ekasih a/n Khristianto, no rek BCA 2671462001, bantuan berupa barang yang ingin disalurkan untuk memberkati banyak orang dapat dikirim ke alamat kami di Jl. Bengkulu Kav 434/M Cinere, Limo - Depok 12415.







Kita berada di jaman yang cukup parah, bencana demi bencana terjadi dimana-mana, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi, disertai munculnya berbagai wabah sakit penyakit yang merenggut banyak korban. Penyesatan demi penyesatan agamapun makin marak, seakanakan berlomba-lomba membawa dunia ini kepada kehancuran. Lalu bagaimana dengan kita sebagai gereja Tuhan harus menyikapi dengan benar segala sesuatu yang telah terjadi. Tidak bisa tidak kita harus menempel dan melekat kepada Kristus pada saat menghadapi segala hal yang terjadi diluar perhitungan kita.



























