You are here >
Wed
08
Sep 2010
08/09/10:
Rancangan Besar
07/09/10:
Mitos Seorang Pria
06/09/10:
Deadline
03/09/10:
Kupang Baumata
02/09/10:
Menyapa Zakheus
| Bagi Allah Tidak Ada yang Mustahil |
|
|
|
| Ditulis oleh Khristianto |
| Senin, 25 May 2009 09:43 |
Mengucap syukurlah dalam segala hal. Kalimat ini selalu memotivasi jemaat Tuhan agar tetap bersyukur dalam situasi dan kondisi apa pun. Kadang-kadang, ada juga jemaat yang mengeluh dengan kondisi yang sangat sulit bagaimana kita mau mengucap syukur, demikian keluh kesah beberapa jemaat Tuhan.
Tidak mudah untuk selalu mengucap syukur bagi sebagian orang. Namun lebih sukar lagi untuk tetap bersyukur ketika masalah dan penderitaan tersebut tidak kunjung berakhir. Ayub mampu bersyukur ketika ia kehilangan harta dan semua anak-anaknya. Bahkan Ayub masih mampu bersyukur saat dirinya ditimpa penyakit yang amat mengerikan itu. Tetapi Ayub tidak lagi mampu bersyukur saat penderitaan dasyat yang ia alami tidak kunjung berakhir. Pada akhirnya Ayub mulai mengeluh, membela diri dan menyalahkan Allah yang telah bersikap tidak adil terhadapnya. Bila kita membaca kisah Ayub, seolah-olah sumber masalah yang dialami Ayub berasal dari Iblis dengan seijin Tuhan. Padahal sebenarnya sumber masalah Ayub bukanlah dari Iblis namun dari dirinya sendiri. Memang benar, Iblislah yang menyebabkan Ayub kehilangan harta dan anak-anaknya. Memang benar, Iblislah yang menimpakan sakit penyakit pada diri Ayub. Namun Tuhan mengijinkannya karena ada sesuatu dalam diri Ayub yang perlu dipulihkan/disempurnakan. Alkitab menulis bahwa Ayub merupakan orang yang saleh dan hidup takut akan Tuhan. Bahkan Ayub mempersembahkan korban pendamaian untuk anak-anaknya yang belum tentu berbuat dosa. Tetapi Ayub melakukan semua itu bukan karena pengenalan akan Allah yang benar sebab pengenalan itu ia miliki hanya mendengar dari kata orang. Setelah Tuhan selesai memprosesnya Ayub berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” Inilah tujuan Tuhan sebenarnya dari semua masalah yang menimpa Ayub yaitu agar Ayub bisa memiliki pengenalan Allah yang benar sehingga Ayub hidup saleh bukan karena takut akan hukuman melainkan karena kasihnya kepada Tuhan. Melalui semua kehilangan dan penderitaan yang ia alami, Ayub telah belajar untuk percaya dan mengenal Tuhan lebih dekat. Kepercayaan Ayub kepada Tuhan bukan lagi dari apa kata orang namun dari pengalaman yang ia telah alami. Saya percaya hal ini juga akan dialami oleh semua orang percaya dalam proses pertumbuhan menuju kedewasaan rohani. Pada akhirnya setiap orang yang telah selesai mengalami proses pendewasaan akan menyadari bahwa sumber masalah sebenarnya adalah dirinya sendiri. Untuk lebih mengenal mujizat Tuhan, kita juga perlu membaca Yohanes 11:14-15 Karena itu Yesus berkata dengan terus terang: “Lazarus sudah mati; tetapi syukurlah Aku tidak hadir pada waktu itu, sebab demikian lebih baik bagimu, supaya kamu dapat belajar percaya. Marilah kita pergi sekarang kepadanya.” Pada satu hari Yesus dikabari tentang sakitnya Lazarus, seorang sahabat yang dikasihiNya. Tetapi bukannya buru-buru mengunjungi untuk mendoakan, eh malah Yesus sengaja tinggal lebih lama lagi. Bukannya sedih karena sahabatnya mati, Yesus malah bersyukur dengan ketidakhadirannya itu sebab Ia ingin mereka belajar untuk percaya. Yesus sengaja tinggal lebih lama beberapa hari sampai Lazarus sudah mati empat hari baru ia tiba di sana. Secara ilmu medis, orang yang sudah mati empat hari sudah mulai membusuk jadi mustahil untuk bisa hidup lagi. Namun bagi Allah tidak ada yang mustahil bila kita mau percaya maka segala sesuatu itu mungkin terjadi. Lazarus yang sudah mati empat hari bangkit dan nama Tuhan dimuliakan lewat mujizat tersebut. Hal yang wajar, seperti Maria dan Marta kita juga seringkali ingin cepat-cepat mengharapkan Tuhan menolong saat kita mengalami masalah. Secara natural kita tidak ingin tinggal dalam krisis sebab hal itu menyakitkan jiwa kita. Jujur saja, kita juga tidak suka tinggal dalam krisis sehingga seringkali kita mengharapkan Tuhan segera bertindak agar kita bisa segera keluar dari krisis. Sama seperti Ayub siapa pun pasti pernah membela diri dan menyalahkan Tuhan yang tidak adil karena krisis yang dialami tidak kunjung berakhir. Namun pada akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan mengijinkan krisis itu agar kita bisa belajar percaya dan mengenal-Nya dengan benar. Lewat krisis tersebut, Tuhan mengajar kita akan arti kasih yang sejati dan hakekat yang sebenarnya dari sebuah pelayanan. Yesus berkata sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya (Lukas 18:17). Yang dimaksud Yesus seperti anak kecil adalah dalam hal iman dan kepercayaan. Saya sangat suka mengangkat anak-anak kecil dan melemparkannya ke atas. Anak-anak kecil biasanya sangat senang bila dilempar keatas dan percaya saya akan menangkap mereka sebab mereka tahu bahwa saya mengasihi mereka. Iman seperti anak kecil inilah yang Tuhan inginkan ada dalam diri kita. Kita percaya bahwa saat Tuhan melempar kita keatas maka Ia pasti akan menangkap kita kembali sebab kita tahu bahwa Dia sangat mengasihi kita.Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman Tuhan, yang mengasihani engkau (Yesaya 54:10). Percayalah, percayalah dan percayalah bahwa Tuhan sangat mengasihi engkau! Amin. |
Meja Redaksi
Shalom, sahabat-sahabat eKasih
Puji Tuhan, sesuai dengan rencana maka mulai tanggal 5 Mei 2009 ini eKasih tampil dengan wajah yang lebih segar. Kami tahu bahwa ini masih perlu penambahan penambahan yang lebih baik lagi. Untuk itu setiap hari kami akan terus memperbaiki isi dari eKasih sehingga benar-benar dapat berguna dan menjadi berkat buat kita semua.
Sahabat yang rindu membantu pelayanan ini dapat mengirimkan bantuan ke rekening ekasih a/n Khristianto, no rek BCA 2671462001, bantuan berupa barang yang ingin disalurkan untuk memberkati banyak orang dapat dikirim ke alamat kami di Jl. Bengkulu Kav 434/M Cinere, Limo - Depok 12415.







Mengucap syukurlah dalam segala hal. Kalimat ini selalu memotivasi jemaat Tuhan agar tetap bersyukur dalam situasi dan kondisi apa pun.
Yesus berkata sesungguhnya barang siapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya (Lukas 18:17). Yang dimaksud Yesus seperti anak kecil adalah dalam hal iman dan kepercayaan. Saya sangat suka mengangkat anak-anak kecil dan melemparkannya ke atas. Anak-anak kecil biasanya sangat senang bila dilempar keatas dan percaya saya akan menangkap mereka sebab mereka tahu bahwa saya mengasihi mereka. Iman seperti anak kecil inilah yang Tuhan inginkan ada dalam diri kita. Kita percaya bahwa saat Tuhan melempar kita keatas maka Ia pasti akan menangkap kita kembali sebab kita tahu bahwa Dia sangat mengasihi kita.



























